Dungusema Tempo doeloe
Ngabejaan bulu Tuur
Dungusema, yahh…. Dungusema, sebuah nama yang tidak dikenal secara luas. Orang luar tahunya nama Gang Gemah, Ripah Subur, Makmur Denki. Hal itu dikarenakan banyak teman yang menanyakan asal penulis, menyebutkan nama Dungusema, mereka mengernyitkan alisnaya tanda sebuah kebingungan, ketika dijelaskan baru lah mereka secara diraba-raba tahu.
Dungusema, yahh…. Dungusema, sebuah nama yang tidak dikenal secara luas. Orang luar tahunya nama Gang Gemah, Ripah Subur, Makmur Denki. Hal itu dikarenakan banyak teman yang menanyakan asal penulis, menyebutkan nama Dungusema, mereka mengernyitkan alisnaya tanda sebuah kebingungan, ketika dijelaskan baru lah mereka secara diraba-raba tahu.
Tulisan ini adalah sebuah catatan yang ditulis tahun 1987
oleh Iwan dan Neng Yuyun dengan Nara sumber tokoh RW O3 Kelurahan Ciseureuh
Kecamatan Regol Kota Bandung Bernama pak Dikdik Supardi bin Idi dan Bapak Dais
Mari kita
kupas arti kata dari dungusema itu.
Dungusema berasal dari dua kata Dungus dan Maung. Dungus berarti tempat atau sarang, yang pada waktu itu sama dengan rungkun atau sebutlah hutan. Maung gak usah dijelaskan. Dengan demikian maka Dungusema itu adalah tempat/sarang Maung. Menurut pak Diidik Supardi (Alm) warga RT 05 yang dulu pernah ditanya pada tahun 1987. Cerita Beliau, sebutlah pada waktu itu kampung. Bahwa Dungusema itu memang tidak kelihatan ada sebuah perkampungan,karena jarak dari jalan ke rumah paling depan itu ada kira-kira sekitar 50 Meteran tepatnya rumah Ma Asum atau Pak Mansyur Yang sebelahnya rumah pak Ustad Abdurohim. (alm) Di RT 01 .
Dungusema berasal dari dua kata Dungus dan Maung. Dungus berarti tempat atau sarang, yang pada waktu itu sama dengan rungkun atau sebutlah hutan. Maung gak usah dijelaskan. Dengan demikian maka Dungusema itu adalah tempat/sarang Maung. Menurut pak Diidik Supardi (Alm) warga RT 05 yang dulu pernah ditanya pada tahun 1987. Cerita Beliau, sebutlah pada waktu itu kampung. Bahwa Dungusema itu memang tidak kelihatan ada sebuah perkampungan,karena jarak dari jalan ke rumah paling depan itu ada kira-kira sekitar 50 Meteran tepatnya rumah Ma Asum atau Pak Mansyur Yang sebelahnya rumah pak Ustad Abdurohim. (alm) Di RT 01 .
Kembali lagi ke asal usulnya Dungusema, Bahwa menurut
kakeknya pa Dikdik. Dungusema yang sekarang ini adalah merupakan daerah semak belukar dan kelihatan angker sehingga sering digunakan tempat berkumpulnya
“Maung-maung” untuk bermusyawarah, sedangkan nama pamoyanan adalah tempat
moyannya para maung. Begitu angkernya tempat dungusema ini konon jam 4 sore
sudah tidak ada lagi orang yang berkeliaran.
Okey… FAKTA
keberadaan semenjak dahulu hingga sekarang ini ada adalah SUNGAI JANTRA.
Sungai yang menjadi pembatas daerah kampung dan jalan raya, dahulu merupakan
sungai besar yang mengalir dari sebelah barat sampai timur dungusema. Dan sungai
Jantra ini yang membatasi Dungusemad dengan
wilayah Dengki.dan Babakan Priangan. Di pinggir sungai ini ada sebuah
pohon Cangkring yang penulis tahu itu pohon sudah gede banget. Letaknya kalau
sekarang di belakangnya PONDOK HIJAU,.
Selain itu juga ditumbuhi pohon bunga atau disebut Kembang MAYANG yang banyak
dikurung oleh sarang Lebah besar.
Tempat yang sekarang PASAR KEMBAR dulunya merupakan kebun bambu yang sangat rimbun,dan anker sungai didepannya sungai yang dalam dan mengalir sangat deras melewati curug.
Dengan sungai jantra ini banyak warga yang memanfaatkannya
dengan kegiatan mencuci dan bisa meminum air langsung dari sungai. Saking
jernihnya. .Bahkan dijadikan tempat
bermainnya anak-anak yang ngetop pada saat itu adalah BALAP DUIT PICIS, yaitu
dengan cara melemparkan uang logam ke sungai kemudian siapa yang paling cepet
nyampai diaalah juaranya . Kalau jamannya penulis mungkin dengan cara balap
paparahuan dan sejenisnya. Cag dulu (Lanjut Bagian 3)
Pendudukan
Dungusema
Siapakah yang pertama mendirikan rumah di Dungusema? Yuk kita lanjut
ceritanya.
Mengingat masih jarangnya penduduk di Dungusema, sekitar
tahun 1920-an saat pendudukan Belanda menjatuhkan Bom di kota Bandung,
Dungusema tidak pernah dijatuhi BOM Hal ini ada kemungkinan Belanda tidak memperkirakan bahwa wilayah Dungusema berpenghuni, karena dilihat dari udara adalah
merupakan wilayah yang tidak bertuan akibat rungkun-rungkun yang tinggi
sebagai pelindungnya..
Konon yang jadi penghuni
paling awal di dungusema adalah Mama/juragan DURASAN yang juga dikenal sebagai
“Mpun” (Tempat mohon) , kemudian Mama/Juragan PRAWIRA yang memiliki tanah yang
luas dan pernah disewa oleh Tuan SUAR (mungkin yang dipanggil Enggah) untuk
istal kuda. Selanjutnya ada Eyang TARI, Mbah JANGKUNG dan Mama SUMPENA yang rumahnya seitar Rumah
Pak KARTA, Juragan ENCUT dan Bapak KARNAEN JAYA. *(Adakah yang mengetahui posisi
rumah yang disebutkan diatas)*.
Anak-anak suka menyanyikan lagu pak Karta. ".....beramai-ramai Pak Karta udud Padudan katiup angin bakona awut-awutan
Bagaimana cara menunjukkan tempat Dungusema saat itu.
Orang luar akan menyebutkan dungusema itu dengan menyebutkan dekat Pabrik laken, di Pabrik ini pernah ditempati sebagai lokasi SMA Negeri 11 Bandung, Kemudia pernah juga dihuni oleh SD YAMI, dan sekarang Kantor Perumtel. Sedangkan yang sekarang Toko Abadi adalah merupakan bekas dari Pabrik Busa yang awalnya adalah pabrik petasan. Demikian PakDikdik menceritakan dengan bersemangat sambil sekali-kali menghisap rokonya.
Orang luar akan menyebutkan dungusema itu dengan menyebutkan dekat Pabrik laken, di Pabrik ini pernah ditempati sebagai lokasi SMA Negeri 11 Bandung, Kemudia pernah juga dihuni oleh SD YAMI, dan sekarang Kantor Perumtel. Sedangkan yang sekarang Toko Abadi adalah merupakan bekas dari Pabrik Busa yang awalnya adalah pabrik petasan. Demikian PakDikdik menceritakan dengan bersemangat sambil sekali-kali menghisap rokonya.
Untuk menuju daerah dungusema itu pada jaman penjajahan Belanda,
alat transportasi yang paling elit itu
adalah sepeda. Memasuki wilayah Dungusema Jalannya becek dan berlumpur jika musim hujan, sulit
mengendarai sepeda yang becek, berlumpur dan licin, Akhirnya orang yang mau
pergi kearah wetan mau tidak mau
maka Sepedahlah yang naik orang. Maksudnya
Sepedahnya yang di pangku.
Setelah ada pemerintahan rumah-rumah di Dungusema diberikan
nomor, dan nomor ini adalah sepertinya nomor dimana rumah yang pertama berdiri,
maka itu lah nomernya dengan angka yang paling kecil, contoh nomer rumah kakek
saya yang ada di RT 03 bernomor 4A/203
B. Mengapa 203 B? sedangkan rumah Keluarga Pak Jumhana no 28/203 A. di RT 01.
Apakah sampai RT 02 yang memperoleh Blok 203 A? perlu ada penelusuran.
Penggunaan nomor
/(garis miring) yang hampir semua orang menyebutkan dengan kata BLOK. Blok 203 adalah nomor untuk wilayah Cigereleng bagian
Utara jalan Mulai dari Gang Silih Asih
sampai daerah Pamoyanan RW 05. Kelurahan Ciseureuh. Memasuki Gang Empang sudah menggunakan blok
204. (Ha…ha…ha…. Ini pekerjaan inafis)
Kini wilayah Dungusema sudah banyak rumah-rumah yang
berdiri, mulai dari RT 01 sampai dengan RT 06. Jika mengacu kepada PERDA Kota
Bandung nomor 02 tahun 2013 tentang Lembaga Kemasyarakatan kelurahan di Bab IV pasal 6 syarat pembentukan RT
Maksimal 75 Kepala Keluarga, berarti jumlah
kepala keluarga di wilayah Dungusema itu 450 Kepala Keluarga, kurang lebihnya.
Jumlah penduduknya entah berapa ratus orang mungkin seribuan lebih belum
pendatang yang tidak tercatat atau yang mengontrak..Tanya pak RW?
Soal
Pemerintahan
Di jaman pendudukan Jepang Dungusema dipimpin oleh seorang Ketua Kampung atau biasa disebut Tua Kampung, kalau di desa disebutnya Kadus Kepla Dusun yang membawahi beberapa RW. TUa Kampung untuk Dungusema Dipegang oleh Bapak Sukarya orang mengger. Pak Sukarya lah yang pernah mengerahkan masyarakat untuk mengikuti romusha, dan Heiho.
Berdasarkan buku sejarah
Indonesia karya Sartono Kartodirdjo, pada tanggal 8 Januari 1944, Pemerintah
Militer Jepang yang menduduki kawasan Nusantara (Indonesia saat itu)
memperkenalkan sistem tata pemerintahan baru yang disebut Tonarigumi (Rukun
Tetangga, RT) dan Azzazyokai (Rukun Kampung, RK/sekarang RW). Ketua RT disebutnya
*Kumicho* dan Ketua RK *Assacho*
Gantilah kepemerintahanbaru dan disusunlah untuk satu
wilayah kampung dibentuk dengan nama RK (Rukun Kampung). RK Pertama diketuai
oleh Bapak Amid sebagai kesepakatan
bersama warga Dungusema. Kiprah dari Pak Amid ini mulai merintis pengaturan jalan untuk masyarakat.
Ketua RK kedua di ketuai oleh Bapak Ust. T. Sobandi, Upayanya adalah mulai memperbaiki dan penataan jalan-jalan, dan kalau tidak salah informasi, membangun rumah yang berdekatan dengan jalan harus memberikan ruang untuk jalan sebanyak 50 Cm (atau Setengah meter). Dan pembangunan Mushola di RT 05 adalah merupakan kegiatannya. Sedangkan Mesjid Al Hikmah Didirikan atas upaya Mama Marta Atmaja (dulu menyebutnya Engking) Tentu saja saat itu berbentuk bangunan panggung dan memiliki sebuah bedug.,
Ketua RK kedua di ketuai oleh Bapak Ust. T. Sobandi, Upayanya adalah mulai memperbaiki dan penataan jalan-jalan, dan kalau tidak salah informasi, membangun rumah yang berdekatan dengan jalan harus memberikan ruang untuk jalan sebanyak 50 Cm (atau Setengah meter). Dan pembangunan Mushola di RT 05 adalah merupakan kegiatannya. Sedangkan Mesjid Al Hikmah Didirikan atas upaya Mama Marta Atmaja (dulu menyebutnya Engking) Tentu saja saat itu berbentuk bangunan panggung dan memiliki sebuah bedug.,
Setelah Pak Ust. T. Sobandi, dilanjutkan oleh Pak Sukandi dikenal dengan nama Pak
Ulis. Kinerja pak Ulis ini tidak kalah menariknya dari Ketua RK terdahulunya. Dengan
penataan gang, yang penulis ketahui bahwa gang di Dungusema sudah di tembok.Setelah tidak menjabat jadi ketua RK
pun sifat beliau dan keluarganya
memiliki jiwa social, terbukti setiap sore hingga malam hari selalu didatangi
orang-orang untuk menonton televisi. Hatur nuhun Pak Sukandi Sekeluarga, mugia
amal kasaeanna ditampiku Alloh SWT. Aamiin
Penerus berikutnya
adalah Bapak T. Parman yang menjabat selama dua Periode kepemimpinanya,
Peninggalannya tiada lain masih seputar pembangunan jalan kampung yang kini
disebut “Gang, Mulai dari
pengaspalan dan penghalusan. Kemudian membuat cikal bakal Kantor RK yang
terletak di depan Gang Dungusema II. Bangunannya tidak permanen, kawat ram yang digunakan sebagai dindingnya
sebagian.
Selesai kepemimpinan pak T. Parman dilanjutkan dengan Pak Supardi.Sebuah bangunan kecil didepan rumahnya telah dijadikan sebagai
kantor RK, dan disitulah saat hendak agustusan muda-mudi Berkumpul. Saat itu
tahun sekitar 1979 masih bernama RK 10 Ligkungan Cigereleng
Undang-Undang pemerintahan daerah tahun 1983 ,telah berubah bahwa
mulai tahun 1983 RK( Rukun Kampung) digantikan menjadi RW (Rukun Warga). Tahunnya
kurang pasti yang menjabat RK 10 menjadi RW 03 Kelurahan Ciseureuh Adalah Pak E. Supriyadi, pada masa itu beliau
telah membangun sebuah Kantor RW yang permanen
terletak di RT 02. Dan masyarakat bekerja bakti untuk mewujudkan sebuah
Lapang Volly di belakang Kantor RW.
Selesai Pak E. Supriyadi kemudian digantikan oleh Pak Edi RT 06, Kemudian ke Pak Lili dan sekarang Pak Iin
Ruhiyat, SH.
Komentar
Posting Komentar